Home » » Jujur dan Amanah Dalam Berniaga, Sumber Keberkahan Harta

Jujur dan Amanah Dalam Berniaga, Sumber Keberkahan Harta

Berdagang yang halal dengan sifat-sifat terpuji adalah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu anhu. Kisah keteladan Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar al-Bashri, pedagang kain yang sangat jujur dan selalu menjelaskan cacat barang dagangan sebelum terjadi jual-beli.

Keberkahan dan kebaikan harta merupakan dambaan setiap insan beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Inilah harta yang akan menolong seorang hamba, dengan taufik dari Allah Subhanahu wa ta’ala, untuk meraih kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Inilah harta yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Sebaik-baik harta yang sholeh (penuh berkah) adalah untuk seorang (hamba) yang sholeh (HR. Ahmad, 4/197; Ibnu Hibban, No. 3210; dan al-Hakim, 2/3; dinyatakan sahih oleh imam Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Kitab al-Adabul Mufrad No. 299).

Di antara sebab besar yang menjadikan harta diberkahi Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjadi penolong manusia dalam ketaatan adalah bersikap jujur dan amanah dalam mencari rezeki dari Allah Subhanahu wa ta’ala, terutama dalam berjual-beli dan berniaga. Kisah berikut semoga dapat menjadi teladan bagi kita dalam upaya menjadikan harta yang kita peroleh dari usaha perniagaan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa.
Yunus bin ‘Ubaid bin Dinar al-Bashri (wafat pada 139 H), sebagaimana tersebut pada biografi beliau dalam kitab Siyaru a’laamin nubala, 6/288; dan Shifatush shafwah, 32/517, adalah seorang imam panutan dari generasi tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti meriwayatkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram, sebagaimana disebutkan dalam kitab Taqriibut tahdziib, hlm. 613. Beliau seorang pedagang kain yang sangat jujur dan selalu menjelaskan cacat barang dagangan sebelum terjadi jual-beli (simak kitab Siyaru a’laamin nubala, 6/290). Bahkan karena kejujurannya, beliau pernah mengembalikan uang seseorang yang membeli kain dari beliau dengan harga lebih tinggi karena waktu itu yang melayaninya keponakan beliau (Siyaru a’laamin nubala, 6/289). Begitu pula sebaliknya. Jika membeli barang dari seseorang, beliau akan membayarnya dengan harga yang sesuai, meski penjualnya pada awalnya menawarkan harga lebih murah (Siyaru a’laamin nubala, 6/289).
Diriwayatkan dalam biografi beliau, suatu saat harga kain di daerah dekat Bashrah naik menjadi lebih mahal. Sesuai kebiasaan, jika di suatu daerah harga kain naik, harga kain di Bashrah pun akan ikut naik. Mengetahui hal itu, Yunus bin ‘Ubaid segera membeli sejumlah besar kain dari pedagang kain lain dengan harga pasar. Setelah selesai bertransaksi, beliau bertanya kepada pedagang kain: “Apakah engkau mengetahui bahwa harga kain naik di daerah Anu? Penjual kain itu menjawab, “Tidak. Kalau saja aku tahu, tentu aku tidak akan menjualnya kepadamu.” Yunus bin ‘Ubaid berkata, “(Kalau begitu) kembalikan uangku padaku dan aku akan kembalikan barangmu.”(Siyaru a’laamin nubala, 6/289).
Masya Allah! Betapa mulia dan agungnya sifat beliau. Betapa tingginya sifat jujur dan amanah dalam diri beliau sehingga dengan sebab inilah Allah Subhanahu wa ta’ala memberkahi harta beliau dan memudahkan beliau meraih kedudukan mulia dalam agama-Nya, sehingga imam adz-Dzahabi menyifati beliau sebagai “seorang imam dan panutan (dalam kebaikan)”(simak kitab Tadzkiratul huffaazh, 1/145).
Oleh karena keutamaan kedua sifat itu dalam berjual-beli, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Seorang pedagang Muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi ‘alaihissalam, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada Hari Kiamat (nanti).” Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 2139, juga al-Hakim No. 2142, dan ad-Daraquthni No. 17; dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi ada hadis lain yang menguatkannya, dari Abu Sa’id al-Khudri Rahimullah, HR. at-Tirmidzi No. 1209 dan lain-lain. Oleh karena itu, hadis itu dinyatakan baik sanadnya oleh Imam adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani (simak ash-Shahiihah” No. 3453).
Imam ath-Thiibi mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan, “Barangsiapa yang selalu mengutamakan sifat jujur dan amanah, dia termasuk golongan orang-orang yang taat (kepada Allah Subhanahu wa ta’ala) dari kalangan orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid, tapi barangsiapa yang selalu memilih sifat dusta dan khianat, dia termasuk golongan orang-orang yang durhaka (kepada Allah Subhanahu wa ta’ala) dari kalangan orang-orang yang fasiq (buruk/rusak agamanya) atau pelaku maksiat.” (simak kitab Syarhu sunani Ibni Majah, hl,. 155)
Beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari kisah di atas antara lain:
  • Maksud sifat jujur dan amanah dalam berjual-beli adalah dalam keterangan yang disampaikan sehubungan dengan jual-beli tersebut, dan penjelasan tentang cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang dijual jika memang ada cacat padanya (simak kitab Faidhul Qadiir, 3/278).
  • Inilah sebab yang menjadikan keberkahan dan kebaikan dalam perdagangan dan jual-beli, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalau keduanya (pedagang dan pembeli) bersifat jujur dan menjelaskan (keadaan barang dagangan atau uang pembayaran), Allah akan memberkahi keduanya dalam jual-beli tersebut, tapi kalau keduanya berdusta dan menyembunyikan (hal tersebut), akan hilang keberkahan jual-beli tersebut.” (HR. al-Bukhari No. 1973, dan Muslim No. 1532)
  • Berdagang yang halal dengan sifat-sifat terpuji, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu anhu sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul kabiir, 23/300, No. 674 dan dinyatakan jayyid (baik/sahih) oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul ahaa-ditsish shahiihah No. 2929).
  • Ada pun hadis mengenai “Sembilan per sepuluh (90%) rezeki adalah dari perniagaan”, ini adalah hadis lemah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul ahaa-ditsidh dha’iifah No. 3402. (PM)
 Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.

0 comments:

Post a Comment

Template Information

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. BELAJAR ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger