Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

SHIRAH NABI 1

Sejarah Rasulullah.


Disusun Oleh:
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy.


Penerjemah :
Team Indonesia
Murajaah :
Abu Ziyad
الدرة المضيئة في السيرة النبوية


Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah

1429 – 2008


`Syekh Imam Al-Hafiz Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid
Al-Maqdisy –semoga Allah SWT meridhainya- berkata:
Segala puji bagi Allah SWT pencipta langit dan bumi, pencipta cahaya dan
kegelapan, yang mengumpulkan para makhluk di hari perhitungan, hari
kemenangan bagi orang yang berbuat baik dan kesengsaraan bagi ahli
maksiat. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan
benar selain Allah tiada sekutu baginya, dengan persaksian yang bisa
membawa kepada kebahagiaan di hari kiamat. Semoga shalawat dan salam
selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW pemimpin para nabi dan rasul,
keluarga dan para sahabatnya yang mulia.
Amma ba’du, ini adalah ringkasan dari sejarah Rasulullah Muhammad SAW
yang penting untuk diketahui oleh setiap muslim. Harapan kami, semoga ia
bermanfaat untuk para pembaca.

Nasab Rasulullah SAW
Beliau adalah Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Mutthalib bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab
bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima
bin Mudrikah bin Ilyas bin bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad
bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin
Ismail bin Ibrahim "Kekasih Allah" (alaihima as-salam) bin Tarih atau Azar bin
Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin bin Arfakhsyad
bin Sam bin Nuh (alaihis salam) bin Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh -- yaitu
Nabi Idris keturunan Nabi Adam yang pertama menjadi nabi dan yang
menulis dengan pena -- bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits
bin Adam alaihissalam.
Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani di salah
satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh para ulama,
sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang dimaksud
Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah.

Ibu Rasulullah saw.

Ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdimanaf bin Zuhrah bin Kilab bin
Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.
Kelahiran Rasulullah saw.
Beliau dilahirkan di Mekah pada tahun Gajah bulan Rabiul Awal, tanggal dua,
hari Senin.
Sebagian ulama mengatakan bahwa beliau dilahirkan setelah tiga puluh
tahun dari tahun gajah. Sebagian lagi mengatakan setelah empat puluh tahun
dari tahun gajah. Pendapat yang benar adalah pada tahun gajah.

Kematian ayah, ibu, dan kakeknya
Ayahnya meninggal dunia ketika ia berusia dua puluh delapan bulan. Menurut
sebagian ulama usianya tujuh bulan ketika ayahnya meninggal. Ada lagi yang
berpendapat bahwa ayahnya meninggal di perkampungan an-Nabighah
ketika ia masih janin. Dan dikatakan pula bahwa ayahnya wafat di daerah
Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Abu Abdillah Zubair bin Bakkar az-Zubairi berkata: Abdullah bin Abdul
Mutthalib wafat di Madinah ketika Muhammad berusia dua bulan.
Sedangkan ibunya meninggal dunia ketika ia berusia empat tahun.
Sementara kakeknya meninggal dunia ketika usia Muhammad delapan tahun.
Dikatakan pula bahwa ibunya wafat ketika ia berusia enam tahun.

Penyusuan Muhammad
Muhammmad disusui oleh Tsuwaibah budak Abu Lahab bersama dengan
penyusuan Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Abu Salamah Abdullah bin Abdul
Asad al-Makhzumi dengan air susu anaknya yang bernama Masruh.
Kemudian Muhammad disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib as-Sa’diyah.

Jangan Bersedih, Atas tidak tercapainya DUNIA...!



Kenapa harus resah dengan dunia,                                                                                                                                                                                   Kenapa harus sedih dan resah atas tak tercapainya dunia,                                                                                                                           biarkanlah dunia berjalan dan berlalu                                                                                                                                                                 kenapa, apakah karena kenikmatannya yang tak tercapai dan hilang
Kenapa harus bersedih dan berhenti,                                                                                                                             biarlah dunia dan kenikmatannya itu hilang dan berlalu,biarkanlah…………. 
Karena....                                                                                                                                                                      Dan sabar itu lebih nikmat 
dan amal sholeh itu lebih nikmat,                                                                                                                            dan ibadah itu lebih nikmat,                                                                                                                                                                          dan dzikir itu lebih nikmat,                                                                                                                                                                                dekat dengan Allah itu jauh lebih nikmat,                                                                                                                                                    jadikanlah dunia itu di tanganmu bukan di hati mu                                                                                                                                       dunia ini adalah sarana, bukan tujuan                                                                                                                                                                    dan tujuan akhir adalah kembali kepada Allah.

Renungan.....



Kirana Dwitya; 28 Jan ‘09 (s’pore)
Bismillah  ar rahmaan ar rahiim,
Segala Puji hanyalah untuk Allah,Tuhanku yang tiada sekutu bagi-Nya.
Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad hamba dan utusan-Nya,keluarga,sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya semuanya.
Ya Allah berilah hamba ini petunjuk untuk dapat menempuh jalan-Mu yang lurus yang tiada bengkok sedikitpun,jangan biarkan hamba lalai,bingung,kacau dalam menjalani hidup yang telah Engkau anugerahkan pada hamba,hamba ini lemah yaa Allah,maka berilah hamba kekuatan untuk tetap istiqomah dan tulus ikhlas dalam menjalankan agama yang Engkau ridhloi ini.
Yaa Allah ku pasrahkan hidupku ini kepada-Mu yang memberiku hidup dan akan mematikan aku dan membangkitkanku kembali di hari yang tiada perlindungan kecuali pada-Mu.
Allah tiada sekutu bagi-Mu,tiada sekutu bagi-Mu ya Allah,kepada-Mu aku kembali,Engkau adalah tempat dimana harapanku aku sandarkan dan hanya kepada-Mu segala harapanku,Aku mengharapkan kasih sayang-Mu,perlindungan-Mu,pertolongan-Mu,ampunan-Mu dan segala kebaikan di dunia dan akhirat,aku tahu bahwa segala dan apapun kesenangan,kenikmatan,kesukariaan yang sementara tidak dapat menandingi yang kekal,dan aku yakin akan fananya kehidupan dunia ini,karenanya bimbinglah aku hamba yang mengharap bimbingan dan petunjuk ini agar tidak terlena oleh yang fana ini,tidak resah yang berlebihan akan tidak tercapainya dunia.Yaa Allah aku mengharapkan ampunan-Mu dan kepada-Mu aku kembali.
Hidupku di dunia ini hanyalah perjalanan sebentar seperti seorang musafir yang berteduh dibawah pohon kemudian melanjutkan perjalanan kembali,hidup ini seperti esok hari saja atau sore hari saja yang berlalu bersamaan tenggelamnya matahari.sekejap,sekejap dan fana.akan tetapi kesadaran ini sungguh berat dan hanya kepada Allah tempat bergantung,memohon perlindungan,pertolongan dan memohon diberi kemenangan atas pejuangan melawan segala godaan dan cobaan selama hidup di dunia,Yaa Allah aku berlindung kepada-Mu.



SURAT SEORANG KAKAK KEPADA ADIKNYA TERCINTA.



SURAT SEORANG KAKAK KEPADA ADIKNYA TERCINTA.

                                Kecil, dimanja. Muda, foya-foya.Tua,kaya raya. Mati,masuk surga.


Inilah bahan candaan anak muda saat ini. Mungkin ini cuma bercanda. Namun, kadang juga ada yang punya prinsip hidup seperti ini. Begitu pula dengan seorang adik. Seorang adik dinasehati, “Dek, kamu di dunia ini hanya hidup sementara, jagalah ibadahmu.” Entah mengejek atau sekedar guyonan, dia menjawab, “Justru itu kak, kita manfaatkan hidup di dunia sekarang dengan foya-foya.

Sungguh adik yang satu ini jauh dari agama. Hidayah memang di tangan Allah. Namun nasehat haruslah terus disampaikan karena dialah adik satu-satunya yang setiap kakak pasti menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia pun telah mendapatkan kebaikan.



Dek … Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi wejangan pada seorang pemuda, yaitu Ibnu ‘Umar. Berikut sabdanya,
“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau bahkan seorang pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)
Adikku, negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan di sini adalah dunia, sedangkan negeri tujuannya adalah akhirat.
Adikku, yang namanya orang asing adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tempat berbaring, namun dia dapat mampir sementara di negeri asing tersebut.
Lalu dalam hadits di atas dimisalkan lagi dengan pengembara.
Wahai adikku, semoga engkau selalu mendapat taufik-Nya. Seorang pengembara tidaklah mampir untuk istirahat di suatu tempat kecuali hanya sekejap mata. Di kanan kirinya juga akan dijumpai banyak rintangan, akan melewati lembah, akan melewati tempat yang membahayakan, akan melewati teriknya padang pasir dan mungkin akan bertemu dengan banyak perampok.
Itulah adikku, permisalan yang dibuat oleh nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia itu hanya sementara sekali, bahkan akan terasa hanya sekejap mata.
Renungkan juga hadits ini
Adikku, permisalan yang bagus pula dapat engkau renungkan dalam hadits berikut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia hanyalah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)
Lihatlah adikku, permisalan yang sangat bagus dari suri tauladan kita. Hidup di dunia sungguh sangat singkat. Semoga kita bisa merenungkan hal ini.
Adikku … Segera kembalilah ke jalan Allah, ingatlah akhirat di hadapanmu
Semoga hatimu terenyuh dengan nasehat Ali bin Abi Tholib berikut.
Ali berkata, “(Ketahuilah) dunia itu akan ditinggalkan di belakang. Sedangkan akhirat akan ditemui di depan. Dunia dan akhirat tersebut memiliki bawahan. Jadilah budak akhirat dan janganlah jadi budak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan. Sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan dan bukanlah hari beramal lagi.”
Adikku, ingatlah akhiratmu. Ingatlah kematian dapat menghampirimu setiap saat dan engkau tidak dapat menghindarinya. Janganlah terlalu panjang angan-angan. Siapkanlah bekalmu dengan amal sholeh di dunia sebagai bekalmu nanti di negeri akhirat. Perbaikilah aqidahmu, jauhilah syirik, jagalah shalatmu janganlah sampai bolong, tutuplah auratmu dengan sempurna janganlah sampai mengumbarnya, dan berbaktilah pada ortumu dengan baik.
Semoga Allah memberi taufik padamu. Semoga kita dapat dikumpulkan bersama para nabi, shidiqin, syuhada, dan sholihin.

Disusun di Pangukan-Sleman, 10 Dzulqo’dah 1429,
saat sore hari ketika Allah menganugerahi berkah hujan dari langit.
Rujukan :
Fathul Bari, Ibnu Hajar
Ma’arijul Qobul, Al Hafizh Al Hakami
Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin

Perangi Musuh islam dengan menghidupkan Sunnah...



Penulis: Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
 
Diantara syubhat-syubhat ahlul bid’ah dalam rangka menggembosi pengamalan sunnah adalah ucapan mereka: “Kaum muslimin hari ini dalam keadaan lemah, diinjak-injak dan dijatuhkan martabatnya oleh musuh-musuh Islam. Di mana-mana terjadi pembantaian kaum muslimin seperti binatang ternak, tetapi kalian malah sibuk mempelajari sunnah-sunnah, mengajarkan dan menerapkannya! Apakah kalian tidak memikirkan saudara-saudara kalian yang dibantai?!…”

Kalimat yang semakna dengan ini sering dilontarkan oleh ahlul bid’ah dan musuh-musuh sunnah dari kalangan Khawarij, Syi’ah Rafidlah, Mu’tazilah atau pun para hizbiyyun dan dai-dari politik dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Sururiyyin dan lain-lain. Mereka menganggap bahwa menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam merupakan penghalang perjuangan jihad melawan musuh-musuh Islam.



Prasangka ini muncul dari mereka karena mereka memandangnya dengan kacamata kebid’ahan. Dan karena perjuangan jihad mereka juga adalah perjuangan dengan cara-cara bid’ah, maka tentu saja akan bertentangan dengan sunnah-sunnah.

Kita jawab syubhat mereka dari beberapa sisi:
Pertama, perjuangan jihad melawan musuh-musuh Allah jika dilakukan dengan cara yang syar’i dan mencocoki ajaran Sunnah Rasulllah Shalallahu ‘alaihi wassalam, tidak ada pertentangan dengan usaha menghidupkan sunnah-sunnah beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam, sekalipun pada perkara-perkara yang mereka anggap furu’.

Bisa kita lihat pada generasi pertama umat ini, mereka adalah para mujahidin yang telah membuktikan kehebatan mereka di medan tempur melawan musuh-musuh Islam. Namun mereka tidak pernah sesaatpun meremehkan sunnah-sunnah seperti bersiwak, mengangkat pakaian di atas mata kaki, memotong kuku, merapikan kumis, membiarkan jenggot. Apalagi sunnah-sunnah yang berkaitan dengan ibadah mahdlah seperti gerakan-gerakan shalat yang sunnah, shalat lail dan membaca al Qur’an serta dzikir pagi dan sore dan lain-lain.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada pertentangan antara melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam dan jihad melawan musuh-musuh Islam.

Kedua, dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, kita akan semakin dekat kepada Allah. Dan ketika kita semakin dekat kepada Allah, maka Allah akan membela dan menolong kita. Sehingga kita katakan menghidupkan sunnah-sunnah justru mendukung datangnya kemenangan.

Allah berfirman:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ …. ]الحج: 40[
Sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya... (al-Hajj: 40)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ. ]محمد: 7[
Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhamamad: 7)

Ketiga, orang yang menghidupkan sunnah-sunnah akan mencapai derajat wali dan kekasih Allah yang akan dibela oleh Allah dan dikabulkan doanya. Maka Allah akan memenangkan mereka ketika menghadapi musuh-musuhnya sekuat apapun mereka, karena Allah ada di pihak mereka.

Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Sesungguhnya Allah berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إَلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحَبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلْنِي َلأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي َلأُعِيْذَنَّهُ.... (رواه البخاري)
Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku lebih aku sukai daripada melaksanakan apa yang aku wajibkan kepadanya, dan seorang hamba yang terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya; Aku akan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya; Aku akan menjadi tangannya yang dia memukul dengannya; dan Aku akan menjadi kakinya yang dia berjalan dengannya. Jika dia meminta kepadaKu, sungguh pasti akan Aku beri. Dan jika dia berlindung kepadaKu, sungguh pasti akan Aku lindungi… (HSR. Bukhari)

Dengan hadits ini kita mengetahui bahwa dengan diamalkannya sunnah-sunnah, walaupun pada perkara-perkara yang mustahab (tidak wajib) akan menyebabkan kecintaan Allah terhadapnya. Kecintaan itu akan menyebabkan pembelaan Allah terhadapnya. Maka yang demikian sungguh akan mendukung perjuangan jihad fie sabilillah, bukan justru sebaliknya.

Keempat, lebih tegas lagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam menjelaskan bahwa jalan keluar dari penderitaan dan kehinaan serta penindasan orang-orang kafir adalah dengan kembali kepada agama Allah. Tidak dibedakan oleh beliau mana yang wajib dan mustahab, yang ushul maupun yang furu’, tidak pula dibedakan mana yang qusyur (kulit) dan mana yang lubab (inti). Artinya kembalilah kepada agama kalian secara kaaffah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. )رواه أبو داود عن ابن عمر)
Jika kalian telah berjual beli dengan cara riba, telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridla dengan perkebunan-perkebunan dan kalian telah meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan atas kalian kehinaan, yang kehinaan itu tidak akan Allah cabut hingga kalian kembali kepada agama kalian. (HSR. Abu Dawud)

Dengan hadits ini kita ketahui bahwa jalan satu-satunya untuk melepaskan dari kehinaan yang menimpa kaum muslimin adalah kembali kepada agama Allah. Sedangkan agama Allah adalah seluruh yang diajarkan oleh Rasulullah r, Dengan kata lain sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Maka sungguh aneh pernyataan para hizbiyyun di atas yang bernada memojokkan sunnah dan menganggapnya sebagai penghalang bagi perjuangan ‘jihad’. Hal demikian karena apa yang mereka anggap ‘jihad’ ternyata sebuah gerakan kebid’ahan yang mereka beri label ‘jihad’, yang tentu saja bertentangan dengan sunnah.

Lihat para politikus atau hizbiyyun, mereka menamakan perjuangan partai mereka pada pemilu dan parlemen sebagai jihad. Padahal pemilu dan demokrasi adalah perkara bid’ah dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena ajaran ini menganut sistem suara terbanyak, sementara dalam Islam tidak demikian.

Akhirnya, ‘jihad’ mereka pasti akan bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena mereka berusaha untuk meraih pengikut sebanyak-banyaknya untuk memenangkan partainya; sedangkan orang yang menghidupkan sunnah–sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam akan terlihat asing, sedikit bahkan akan dijauhi kebanyakan umat. Untuk itu mereka menganggap dengan diamalkan dan dihidupkannya sunnah-sunnah akan mengurangi suara partainya. Dan dengan berkurangnya pengikut mereka akan menggagalkan perjuangan mereka di parlemen.

Contoh kedua, apa yang dilakukan oleh khawarij. ‘Jihad’ menurut mereka adalah melakukan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang sah. Tentu saja mereka akan menganggap halal darah kaum muslimin yang ada di pemerintahan. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam untuk taat kepada penguasa walaupun ia berbuat dhalim dan seterusnya. Dengan hal ini pula tentu saja mereka akan menghalalkan darah kaum muslimin yang ada di pemerintahan. Ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam yang menyatakan haramnya darah kaum muslimin, kecuali pada tiga perkara, yaitu qishash bagi orang yang membunuh muslim dengan sengaja tanpa haq, hukum rajam bagi pezina yang sudah menikah dan hukum mati bagi orang murtad.

Dengan model ‘jihad’ yang seperti ini, pasti mereka akan menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang.

Demikian pula bagi mu’tazilah. Mereka tidak mau menerima sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam kecuali yang mereka anggap masuk akal. Sehingga perjuangan mereka adalah perjuangan dengan cara-cara akal dan hawa nafsu mereka. Perjuangan model ini tentu saja akan kembali menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang perjuangan mereka. Dan mereka akan alergi jika melihat orang-orang menghidupkan sunnah, di mana akal mereka tidak mampu mengetahui hikmah-hikmahnya.

Demikianlah semua kelompok ahlul bid’ah akan menjauhkan umat dari sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam dengan berbagai macam syubhat yang mereka perbuat. Kalimat di atas hanyalah alasan yang diada-adakan, sesungguhnya sebab utamanya adalah karena mereka benci pada sunnah.

Sebagai penutup kita ingatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk kembali kepada agama Allah, ikutilah sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Karena sesungguhnya sebab terjadinya bencana, kehinaan dan diinjak-injaknya kaum muslimin oleh musuh-musuhnya adalah karena kelalaian mereka dari agama Allah. Ketika mereka meremehkan ajaran Allah dan melupakannya, maka terjadilah apa yang telah terjadi dari kehinaan dan kerendahan yang menimpa umat Islam. Dalam keadaan seperti, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali kepada agama tersebut secara keseluruhan, baik yang diwajibkan, maupun dengan menghidupkan yang mustahab, mempelajari, mengamalkan dan menyampaikannya kepada umat.

Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan beramal shalih akan diberi kemuliaan dan menjadi penguasa di muka bumi dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. ]النور: 55[
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (an-Nuur: 55).

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Buletin Dakwah MANHAJ SALAF, Edisi: 22/Th. I tgl 27 Muharram 1425 H/19 Maret 2004 M., judul asli "Menghidupkan sunnah tidak menghalangi kesiagaan menghadapi musuh Islam", penulis ustadz Muhammad Umar as Sewed,



setstats1

Template Information

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. BELAJAR ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger